Usianya mungkin lebih tua daripada banyak orang yang setiap hari berlalu-lalang di bawah naungannya.
Ia telah menyaksikan ribuan pagi. Menyaksikan anak-anak datang dengan seragam yang berbeda-beda. Menyaksikan mimpi-mimpi tumbuh, lalu terbang meninggalkan sekolah ini.
Namun ia tetap di sana. Ia tetap berdiri. Tetap tumbuh.
Memberi oksigen kepada mereka yang bahkan tidak mengenalnya. Memberi keteduhan kepada mereka yang tidak pernah mengucapkan terima kasih. Tetap memberi manfaat, meski tak pernah minta namanya untuk dikenang.
Kadang rantingnya dipotong.
Kadang batangnya dilukai.
Kadang kehadirannya dianggap biasa.
Tetapi ia tidak berhenti menjadi pohon. Terus bercabang dan beranting. Terus merimbun.
Ia tidak berkata, "Karena aku tidak dihargai, maka aku akan berhenti memberi."
Ia tetap tumbuh. Tetap menghijau. Tetap melayani kehidupan dengan caranya yang sunyi.
Bukankah demikian pula orang tua?
Mereka bangun lebih awal dari anak-anaknya.
Menyimpan lelahnya sendiri.
Mengubur banyak keinginan pribadinya.
Mendoakan anak-anaknya diam-diam ketika semua sedang tertidur.
Sering kali tanpa ucapan terima kasih.
Bukankah demikian pula guru?
Mereka menanam ilmu, akhlak, dan harapan.
Kadang tidak melihat hasilnya hari ini.
Kadang bahkan dilupakan setelah murid-muridnya berhasil.
Namun mereka tetap mengajar.
Alam seolah sedang berbisik kepada kita:
"Jangan ukur nilai hidupmu dari seberapa sering kamu dihargai,
tetapi dari seberapa banyak manfaat yang mampu kamu berikan."
Karena pohon karet itu tidak menjadi besar karena dipuji.
Ia menjadi besar karena terus bertumbuh.
Dan mungkin... manusia terbaik bukanlah yang paling banyak menerima, tetapi yang tetap memberi meski tidak selalu dimengerti.
Seperti pohon karet itu.
Diam.
Teguh.
Bermanfaat.
Dan dicintai Allah dengan cara-cara yang tidak selalu terlihat oleh manusia.
“Pohon karet itu tidak pernah memilih siapa yang boleh berteduh di bawahnya. Mungkin itulah sebabnya Allah membuatnya tumbuh begitu besar."
https://www.instagram.com/reel/DZnJYMQoGnr/?rpxt=cDM3aTltMXlqMjFl
